Pagi itu, ada yang berbeda dari Joy.
Senyum dan auranya cerah ceria. Berulang kali ia tertawa kecil memandangi
telepon genggamnya. Ada satu nama di layar kecil itu yang membuat matanya
berbinar setiap kali ada pesan singkat masuk di handphonenya. Gani.
Ya, Gani. Lelaki itu telah
mengisi hari-hari Joy yang selama ini tak menarik dan membosankan. Walaupun
hanya berkomunikasi via telepon, Joy merasa nyaman membicarakan apapun kepada Gani.
Mulai mengeluh tentang sinyal yang buruk, rasa kantuk yang menyerang ketika rapat
direksi, rencana karir yang disusunnya, dan apapun.
Dan pagi itu, alasan dari senyum
Joy juga Gani. Sosok yang berjarak ribuan kilometer dari kota kecil dimana Joy
tinggal, telah menyatakan perasaannya. Gani menemui Joy dan merasa yakin
dengannya. Tidak jauh berbeda dengan Joy, Gani mengaku merasa nyaman dengan
adanya Joy selama ini. Meski Joy sempat meragu, memikirkan rumitnya keadaan
mereka saat ini, terpisah ruang dan waktu yang begitu nyata, namun Gani
meyakinkan semua akan baik-baik saja. Dan semua akan bisa berjalan dengan baik.
Joy pun mengiyakan, sembari mengucap harap di dalam hati bahwa semuanya memang
akan baik-baik saja.
