Tanggal 30 Januari 2013 adalah salah satu hari ternekat bagi saya diantara hari-hari penuh kenekatan lainnya. Why is that so? Karena pada hari itu saya terbang ke Kuala Lumpur tanpa ijin orang tua, seorang diri, dan hanya bermodal uang 500 ribu rupiah atau sekitar 150 ringgit. Saya jadi teringat kata-kata Mas Muchlis yaitu sebagai mahasiswa dan seorang yang dewasa kita terkadang tidak perlu lagi meminta ijin orang tua selama kita berkeyakinan hal itu bukan merupakan hal yang buruk. Entah benar atau sedikit sesat, saya pun akhirnya percaya akan teori itu.
Berawal dari hunting tiket promo Air Asia , saya iseng-iseng membeli tiket SUB-KUL pp seharga 300 ribu. Empat hari di KL saya rencanakan untuk mengisi liburan kuliah. Sebelumnya saya sudah merencanakan dengan baik dan melakukan banyak survey baik itu di internet, buku, dan bertanya ke orang lain tentang KL mengingat nantinya saya hanya seorang diri.
Tiba 3 jam sebelum keberangkatan, pagi itu sekitar pukul 8, Bandara Internasional Juanda terlihat cukup sepi. Karena counter check in belum dibuka, saya lalu mencari tempat duduk untuk membaca novel sembari membunuh waktu. Selang beberapa menit membolak-balik novel, diam-diam saya memperhatikan seorang wanita di sebelah saya. Membawa ransel khas backpacker, berpakaian casual, seorang diri, dan membawa buku mengenai info travelling ke Asia Tenggara. Saya pun memberanikan diri untuk bertanya dan berkenalan. Menit berikutnya, kami sudah terlibat perbincangan yang seru.
Berawal dari hunting tiket promo Air Asia , saya iseng-iseng membeli tiket SUB-KUL pp seharga 300 ribu. Empat hari di KL saya rencanakan untuk mengisi liburan kuliah. Sebelumnya saya sudah merencanakan dengan baik dan melakukan banyak survey baik itu di internet, buku, dan bertanya ke orang lain tentang KL mengingat nantinya saya hanya seorang diri.
Tiba 3 jam sebelum keberangkatan, pagi itu sekitar pukul 8, Bandara Internasional Juanda terlihat cukup sepi. Karena counter check in belum dibuka, saya lalu mencari tempat duduk untuk membaca novel sembari membunuh waktu. Selang beberapa menit membolak-balik novel, diam-diam saya memperhatikan seorang wanita di sebelah saya. Membawa ransel khas backpacker, berpakaian casual, seorang diri, dan membawa buku mengenai info travelling ke Asia Tenggara. Saya pun memberanikan diri untuk bertanya dan berkenalan. Menit berikutnya, kami sudah terlibat perbincangan yang seru.